Oleh KH Abdullah Gymnastiar
Menata kehidupan berkeluarga merupakan sebuah upaya serius yang harus senantiasa dibina. Butuh latihan secara terus menerus untuk membina keluarga. Seringkali kita mendengar ada orang yang membangun kesuksesan dari awal, namun ketika berada di puncak karirnya, ia menuai kehancuran karena perilaku anak istrinya yang tidak baik. Keluarga malah menjadi fitnah atas puncak karirnya.
Dan tentu orang seperti ini dinilai tidak berhasil mendidik keluarganya. Anak istri malah menjadi orang yang pertama kali menghancurkan kehidupan jika tidak dibina dengan baik sejak awal. Mengapa dapat terjadi demikian?
Sebagian orang masih menomorduakan keluarga dibandingkan dengan pekerjaan kantornya. Ia terlalu sibuk dengan urusannya, sehingga hanya sisa waktu, sisa energi saja yang ia persembahkan untuk keluarga. Padahal jika menginginkan kesuksesan, kita harus bersungguh-sungguh mengawalinya dengan
membina keluarga, anak istri kita. Semestinya, rumah kita dijadikan sebuah labuhan ketenangan, yang memberikan ketentraman kepada setiap penghuninya. Sehingga tidak akan ada pelarian lain. Semuanya selalu merindukan pulang saat selesai beraktivitas. Sungguh ironis jika seorang anak lebih senang berada di luar bersama teman-temannya sampai lupa waktu daripada pulang ke rumah dan menyaksikan ketegangan kedua orang tuanya. Sebuah pertanyaan besar bila seorang suami lebih senang berlama-lama di kantor untuk menghindari pulang ke rumah dengan cepat, atau seorang ibu yang mengutamakan kesenangan aktifitas pribadi di luar dari pada keluarga. Menilai kesuksesan hanya dari sudut materi saja adalah sebuah kesalahan. Perlu diperhatikan aspek-aspek yang lainnya.
Agar rumah kita menjadi rumah ketenangan, maka kita harus menjadikan para anggota keluarganya dekat dengan Allah. Hiasi rumah kita dengan memperbanyak shalat, tilawah Al-Quran, dan beragam kegiatan yang akan mendekatkan kita dengan Allah. Jadikanlah keluarga sebagai ahli sujud ,
keluarga yang ahli taat, keluarga yang menghiasi dirinya dengan dzikrullah, dan keluarga yang selalu rindu untuk mengutuhkan kemuliaan hidup di dunia, terutama mengutuhkan kemuliaan di hadapan Allah SWT kelak di surga. Tidak ada artinya membangun rumah mewah jika tidak menjadi ketentraman bagi penghuninya.
Selanjutnya, kita juga harus menjadikan rumah kita sebagai rumah ilmu. Setiap anggota keluarga saling berbagi pengalaman dan ilmu yang mereka dapatkan dari aktivitas di luar rumah. Semuanya berkomitmen untuk menjadikan setiap peristiwa sebagai ilmu, hikmah dan disampaikan kembali kepada anggota keluarga lainnya. Setiap hari, selalu ada ilmu yang mengalir sehingga tercipta rumah yang tidak pernah kering dengan ilmu.
Selain itu, rumah kita menjadi rumah tempat perbaikan diri. Bapak, Ibu, dan anak-anak saling terbuka menngemukakan koreksi atas sikap dan perilaku yang dinilai belum baik. Tidak ada yang merasa marah jika dikoreksi anggota keluarga lain, semuanya siap dan senang menerima kritikan. Sehingga setiap penghuni rumah akan semakin baik kualitas dirinya. Tentu bukan berarti tidak pernah ada kesalahan, kekeliruan dari masing-masing diri, namun diharapkan semua menjadi peka, langsung memperbaiki kesalahan yang paling kondusif bagi perbaikan diri. Tidak pernah ada yang sakit hati.
Jika saja kita diberikan kemampuan, kegigihan untuk membina rumah tangga sebagaimana di atas, Insya Allah perjuangan kita untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah, yang menjadi basis kesuksesan masing-masing anggota keluarga akan terwujud. Mudah-mudahan dengan begitu, akan terlahir generasi terbaik, generasi rabbani dari rumah-rumah kita. Karena itulah sesungguhnya ukuran sukses setiap diri. Keluarga sukses, Insya Allah karir pun akan sukses. Wallahu a'lam bish showab